Catatan Refleksi Ruth Ketsia Wangkai pada HUT ke-25 PERUATI

Dua puluh enam Mei tahun ini PERUATI menapak perjalanan seperempat abad usianya. Perjalanan ini mungkin belum seberapa dibanding dengan kehadiran organisasi perempuan Kristen lain yang sudah berpuluh-puluh tahun eksis. Namun, walau masih seusia ini, saya coba membuat beberapa catatan refleksi dari apa yang sudah dikerjakan dan dicapai, terutama selama dua periode kepemimpinan kami sebagai BPP/BPN (2011-2015 dan 2015-2019). Catatan-catatan ini sebagian besar saya sudah sampaikan pada acara Talk Show online, 27 Mei, yang diselenggarakan oleh BPN sebagai bagian dari rangkaian kegiatan perayaan HUT PERUATI.

1. Dua tahun pertama periode awal kepemimpinan kami, organisasi PERUATI masih sebagai WADAH bagi perempuan berpendidikan teologi di Indonesia. Bentuk ini meneruskan yang sudah dirintis para pendiri. Jika kita flashback, tampaknya pada eranya bentuk ini dianggap tepat untuk menjawab kebutuhan akan adanya sebuah wadah atau ruang bersama bagi perempuan pendeta dan dosen teologi untuk “mengembangkan wawasan dan pengetahuan; menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian; serta memperkokoh solidaritas antar perempuan berpendidikan teologi” (Kutipan Tujuan PERUATI dari AD/ART 1995/6). Nah, jika PERUATI sebagai wadah dengan tujuan seperti disebutkan di atas, bagi saya, berangkat dari pengalaman menjadi anggota aktif sejak PERUATI berdiri, telah tercapai. Pengetahuan feminis yang kritis dan konstruktif yang diperoleh melalui KTF dan studi mandiri tidak saja memperluas wawasan, tapi, telah turut mempengaruhi menjadi diri yang mandiri, tapi juga merdeka.

2. Fakta lain adalah jumlah perempuan pendeta/teolog dengan strata pendidikan sampai S3 kian bertambah. Juga tampilnya sejumlah perempuan pendeta dalam struktur kepemimpinan gereja dan sekolah teologi, yang pada waktu lahirnya PERUATI apalagi sebelumnya, bukan saja langka, tapi masih ditolak oleh gereja. Statistik sekarang memperlihatkan bahwa jumlah perempuan pendeta, bahkan di banyak gereja, lebih banyak dari laki-laki. Begitu juga perempuan dosen. Jika sampai akhir 1990an penulis perempuan teolog nyaris tak ada, sekarang sudah kelihatan kontribusi pemikirannya dan tulisan-tulisan dalam berbagai penerbitan. Ada juga yang sudah terlibat aktif dalam pergerakan ekumenis internasional. Malah tak dapat disangkal, ada yang lebih menonjol kualitas pemikiran dan kepemimpinan dibanding dengan rekan laki-laki. Semua ini menandakan bahwa baik kuantitas maupun kualitas perempuan pendeta/teolog patut diperhitungkan dan diapresiasi.

3. Akan tetapi, kemajuan di kalangan perempuan pendeta/teolog seperti digambarkan di atas tentu tak bisa diklaim bahwa itu adalah kontribusi PERUATI semata. Terbanyak justru bukan anggota PERUATI. Tampaknya dua dasawarsa terakhir memerlihatkan pergeseran yang signifikan adanya keterbukaan dan dukungan gereja bagi keterlibatan perempuan pendeta/teolog dalam berbagai aspek pelayanan dan kepemimpinan, tak sekedar berada di periferi. Sedikitnya juga ada pengaruh dari gerakan ekumenis sedunia yakni “Dasawarsa Ekumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Wanita (1988-1998) dan “Dasawarsa Mengatasi Kekerasan (2001-2010). Tapi, saya kira, faktor utama yang menentukan kemajuan perempuan selain faktor pendidikan, keberanian dari perempuan sendiri untuk menerobos (melawan) penghalang dirinya, apakah itu adat/budaya patriarkis, doktrin dan aturan gereja yang androsentris, atau juga konstruksi yang bias, stereotip, dan seksis yang ada dalam masyarakat.

4. Awal kepemimpinan periode pertama, kami menghadapi tantangan berat atas kenyataan surutnya semangat kebersamaan dan partisipasi di kalangan pengurus dan juga anggota.
Ternyata kemajuan yang dicapai oleh perempuan pendeta/teolog tak serta merta berjalan seiring dengan kemajuan PERUATI sebagai organisasi. Karena itu, tugas pertama dan utama BPP dalam situasi sulit waktu itu adalah menghidupkan kembali BPD-BPD dan mengonsolidasikan ulang kekuatan bersama, sambil menumbukan kembali kepercayaan lembaga-lembaga mitra. Syukur bahwa usaha ini disambut hangat oleh kawan-kawan di daerah, bahkan bertambah pula BPD-BPD baru. Capaian ini bisa terwujud karena kerja keras, komitmen dan integritas dari BPP sendiri juga BPD-BPD dan anggota-anggotanya. Ada banyak pengorbanan, kepedulian, dan solidaritas yang terbangun dari berbagai pihak sehingga PERUATI eksis dan bangkit lagi. Demikian pula kontribusi dan dukungan penuh dari PGI dan AWRC (Asian Women’ Resource Center for Culture and Theology) khususnya, serta gereja-gereja lokal – semuanya sangat membantu kerberlangsungan hidup PERUATI. Gayung pun bersambut merekatkan kembali kemitraan PERUATI dengan Mission 21 bahkan memungkinkan bertambahnya mitra baru PERUATI yakni EUKUMINDO.

5. Pada sisi lain, program-program pemberdayaan dan peningkatan kapasitas anggota mulai diagendakan oleh BPP. Krisis keuangan dapat diatasi dengan mendapatkan mitra baru yakni AWRC. Bersama kami merancang pelatihan Membaca Alkitab dengan Mata Baru (MAdMB) dan Kursus Teologi Feminis serta penerbitan modul MAdMB. Yang menolong juga adalah pelatihan MAdMB termyata diminati oleh banyak anggota. Kegiatan ini pun terlaksana sebagai program nasional juga daerah. Beberapa BPD menginisiasi dan membeayai sendiri kegiatan ini dengan melibatkan anggota-anggotanya. Sehingga sosialisasi pemikiran feminis dan kerja hermeneutis menyebar luas dan membentuk perspektif kritis bagi yang masih baru dan memperkuat bagi yang sudah punya pengetahuan feminis.

6. Berangkat dari fakta di atas dan juga belajar dari pengalaman dan perjalanan pasang-surutnya PERUATI sebagai “lesson learnt”, seiring pula bertambahnya usia PERUATI waktu itu memasuki dua dasawarsa – mulailah digagas konsep-konsep baru bagi pengembangan PERUATI sekaligus untuk menjawab tuntutan konteks dan kebutuhannya. Disadari pula bahwa kegagalan capaian kemajuan turut pula dipengaruhi oleh cara dan model berorganisasi, di samping konsep-konsep feminis yang masih sebatas dan hanya berkutat pada teori dan wacana saja. Betul bahwa gerakan pemikiran feminis sudah muncul dalam setiap fase kepengurusan PERUATI, bahkan sudah ada sebelum PERUATI lahir. Masuknya studi feminis atau kajian gender di PT termasuk di sekolah-sekolah teologi adalah salah satu indikator bahwa pemikiran feminis/feminisme sudah berkembang di Indonesia, bukan semata produk Barat seperti tudingan mereka yang alergi dan anti feminis. Namun apa yang kita lihat itu masih sebatas pada gerakan pemikiran yang sifatnya elitis, akademis, dan cenderung individualis – belum terkonsolidasi menjadi kerangka ideologis dan alat kekuatan bagi perjuangan bersama melawan segala bentuk diskriminasi, ketidakadilan, dan kekerasan terutama berbasis gender, yang masih fenomenal di dalam gereja, masyarakat, dan negara. Kesadaran kritis inilah kemudian mendesak BPP (waktu itu masih bernama BPP nanti berubah menjadi BPN pada KONAS ke-4 di Tondano, 2015) bersama Anna Marsiana, merumuskan konsep baru berorganisi dan berfeminis ala PERUATI. Tentu konsep ini lahir dari kajian mendalam berangkat dari pergulatan ril PERUATI di level basis dan diperkuat lagi oleh perspektif feminis yang mulai terinternalisasi secara konstruktf. Selanjutnya secara formal dibahas bersama dalam pertemuan- pertemuan nasional PERUATI mulai di KONAS Istimewa di Kendari, 2013, RAKORNAS di Parapat, 2014, dan selanjutnya di KONAS ke-4 di Tondano, 2015. Di KONAS inilah ditetapkan baik perubahan definisi apa itu PERUATI maupun implikasinya pada perubahan visi, misi, dan pasal-pasal lain dalam AD/ART. Inilah pertama kali dilakukan revisi AD/ART PERUATI.

7. Pertama, bahwa PERUATI tak sekedar wadah, tapi RUMAH DAN GERAKAN BERSAMA PEREMPUAN BERPENDIDIKAN TEOLOGI DI INDONESIA UNTUK PEMBEBASAN DAN TRANSFORMASI. Definisi ini tak sekedar memperlihatkan perubahan bentuk organisasi, tetapi lebih mempertegas makna kehadiran PERUATI dengan identitas barunya, yakni sebagai gerakan feminis bagi keadilan dan kesetaran bagi semua. Maksud kata “semua” di sini ialah melampaui konsep gender (tadisional) bineri. Sebaliknya, mau menegaskan jangkauan perjuangan, selain untuk internal PERUATI, juga bagi minoritas gender dan seksualitas, disabilitas, masyarakat adat, korban bencana, dan komunitas yang terbisukan lainnya, dan juga bagi kemajemukan masyarakat dan alam sebagai subyek yang setara (misi PERUATI). Kedua, sepakat memakai kata feminis lekat dengan PERUATI menegaskan bahwa ia tak sekedar wacana, teori atau perspektif melainkan juga alat (ideologi) perjuangan, bahkan nilai dan gaya hidup vis-a-vis hetero-patriarki- normatif. Sebagai sebuah gerakan feminis, PERUATI tegas mendeklarasikan dirinya sebagai gerakan perubahan yang kekuatannya ada di tingkat basis tersebar luas di daerah-daerah. Karena itu, kata pusat yang melekat pada nama pengurus nasional dihilangkan diganti dengan kata nasional. Sejak KONAS di Tondano sebutannya adalah Badan Pengurus Nasional, bukan lagi Badan Pengurus Pusat. Dengan demikian, pusat bukan di Jakarta sebagai kedudukan sekretariat pengurus nasional, tetapi justru ada di daerah-daerah. Di sanalah terbangun basis keanggotaan dan kekuatan organisasi baik dalam hal sumber daya dan pemikiran maupun sumber ekonomi PERUATI. Kalau tokh ada struktur kepengurusan nasional bukanlah menunjuk pada struktur kekuasaan yang hierarkis-piramidal lagi otoritatif, tetapi pada fungsi BPN sebagai katalisator dan fasilitator
Dengan demikian, kepemimpinan PERUATI adalah “power sharing” bukan “power over”. Perubahan nama dan konsep kepemimpinan seperti ini sekaligus hendak mengubah paradigma “top-down” yang menjadikan pengurus nasional segala-galanya, paling tahu/hebat, dan semua program harus turun dari atas. BPD-BPD sudah mesti disiapkan untuk mengembangkan pemikiran teologi feminis kontekstual, proyek pemberdayaan dan kerja-kerja advokasi di daerah. Karena itu fokus PERUATI sudah harus terarah pada peningkatan kapasitas BPD-BPD dan perkuat basis gerakan.

8. Implikasi dari konsep baru sebagai gerakan mendorong PERUATI memperluas orientasi perjuangan dan karyanya. Kelompok sasarannya mesti juga menjangkau komunitas yang lebih luas, yang termarjinalkan dan terdiskriminasi. Karena itu membangun dan memperkuat jaringan melampui sekat-sekat ekslusif dan primordial adalah kebutuhan yang tak terhindarkan lagi bagi PERUATI sebagai gerakan. Perspektifnya harus berubah membangun komitmen untuk berkarya di ruang-ruang publik yang lebih luas lagi, sambil menyiapkan kader-kader potensial yang memiliki perspektif feminis yang kuat sebagai alat perjuangan. Kiprahnya kini ditantang untuk aktif dalam kerja-kerja advokasi litigasi dan non-litigasi, bahkan kerja legislasi bagi keadilan dan pemenuhan hak-hak minoritas.

9. Memang ini baru proses awal. Ada harapan ke depan apabila PERUATI mampu mengonsolidasikan kekuatan basis sebagai modal sosial gerakan. Tapi tentu tak mudah. Tantangan internal juga berat, mungkin lebih berat lagi karena jangan-jangan yang dilawan sebagai hantu patriarki tidak lain adalah diri (kita) sendiri. Sadar atau tidak, sesungguhnya inilah penghambat paling besar bagi gerakan perempuan untuk maju apalagi untuk jadi agen perubahan. Seperti dikatakan seorang teman “musuh perempuan tak lain adalah perempuan sendiri” (?).

Semoga pekikan moto PERUATI: TAJAM MENATAP PEKA MERASAKAN BERANI BERTINDAK akan selalu memberi energi baru untuk melangkah dan juga menari dalam tarian pembebasan dan transformasi.

Tomohon, 29 Mei 2010