Novel tentang relasi antar suku di Indonesia. Sebagiannya mungkin mengisahkan realitas bangsa yang beragam ini, yang mengusik hubungan cinta dan asmara Monang asal Batak dan Raumanen asal Minahasa pada tahun 70an itu.

Uthe Saiya

Novel ini membuat beta ingin tahu dengan segera akhirnya (ini kebiasaan buruk). Membacanya melompat-lompat halaman, sudah maju kemudian mundur lagi dan maju lagi hingga halaman terakhir. Novel lama ini terasa baru saja karena isunya masih hidup hingga sekarang.

Ini Novel tentang relasi antar suku di Indonesia. Sebagiannya mungkin mengisahkan realitas bangsa yang beragam ini, yang mengusik hubungan cinta dan asmara Monang asal Batak dan Raumanen asal Minahasa pada tahun 70an itu. Namun juga masih menancapkan kukunya hingga sekarang ini. Siapa yang merasa unggul dan siapa yang subordinat dan seringkali dianggap antara ada dan tiada.

Selain isu kesukuan, relasi gender juga menjadi warna yang kental dalam novel ini. Bahwa Manen dibesarkan menjadi perempuan merdeka (pengaruh modernitas dan juga barat) namun dia tidak menjadi merdeka ketika berhadapan dengan tradisi dan adat budaya Batak. Seperti halnya juga dialami Norah yang bule dan menikah dengan orang Batak. Adat istiadat sangat patriakh dan menundukan perempuan di hadapannya.

Keadaan Raumanen begitu tidak nyaman ketika terlanjur hamil dengan Monang namun tak disetujui oleh keluarga pihak laki-laki karena secara adat Monang harus menikah dengan pilihan orang tuanya yang sesuai dengan adat istiadat mereka. Yang walaupun dalam menceritakannya Marianne Katoppo seolah-olah membuka ruang bagi pembaca untuk menafsirkannya bahwa Monang tidak serius dan hanya mempermainkan Manen dengan janji-janji yang tak mampu ditepatinya.

Beta sedih ketika diakhir novel ternyata Raumanen sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Ia bunuh diri. Entah melarikan diri dari masalahnya atau membebaskan diri dari masalah ini.

Tentu Marianne Katoppo tidak menawarkan solusi demikian jika seorang perempuan menghadapi masalah serupa. Dalam kata-katanya, Raumanen katakan bahwa jalan itu justeru membuat tubuhnya dan hidupnya tidak berguna. Itu berarti bunuh diri bukan solusi. Rasanya beta ingin mengakhiri cerita ini dengan membiarkan Raumanen tetap hidup dan menempatkan tokoh-tokoh yang benar-benar memahami, menguatkan dan merangkulnya. Tidak membiarkannya sendiri. Bahwa ia masih bisa meraih cita-citanya menjadi seorang hakim, menjadi seorang ibu yang hebat bagi anaknya.