Pendeta Jeny Elna Mahupale diapit  dua tokoh perdamaian internasional Imam Ashafa dan Pastor James di New York City.
Pendeta Jeny Elna Mahupale diapit  dua tokoh perdamaian internasional Imam Ashafa dan Pastor James di New York City.

Seorang perempuan pendeta yang selama ini bergerak dari kampung ke kampung di Maluku, tiba-tiba duduk di antara para aktivis perdamaian internasional di New York City, Amerika Serikat. Di sana, ia paparkan pengalaman merajut hubungan persaudaraan Islam-Kristen di level akar rumput di Maluku.

Jeny Elna Mahupale, sosok perempuan itu. Pendeta Gereja Protestan Maluku (GPPM) ini  bertugas sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Wassu, di Pulau Haruku. Upaya-upaya yang dilakukannya hampir sepuluh tahun terakhir di Waai, Suli, Poka,  Rumahtiga, Tial, dan lokasi lain,  mengantar sang aktivis perdamaian ke pentas internasional.

Peraih Tanembaum Award Pendeta Jacky Manuputty yang mendampingi Pendeta Mahupale mengungkapkan, kerabat perempuan Maluku ini lolos dalam nominasi pekerja damai berbasis pemuka agama. Calon yang lolos, diundang mengikuti retreat regular jaringan Tanenbaum Peacemaker in Action (PiA) yang berbasis di New York City.

Sebelum ini, Tanenbaum Center meminta semua Peacemakers yang pernah mendapat award menominasikan satu kandidat dari negaranya untuk diseleksi menjadi peserta retreat regular  oleh Tanenbaum Center, akhir Juli 2019. Selaku salah satu penerima award Peacemaker Tanenbaum, Manuputty mengajukan Mahupale sebagai calon dari Maluku.

“Beta nominasikan Pendeta Jeni Mahupale.  Dari  23 nama yang dinominasikan,  Pendeta Yeni dan tiga nominator lain lolos sehingga diundang  bergabung dalam retreat tahun ini,“ jelas Manuputty, dari New York City.

Pendeta Jeni Mahupale tidak muncul begitu saja karena usulan Pendeta Manuputty.  Secara akademis, ia meraih gelar master resolusi konflik di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS- Center for Religious and Cross-Cultural Studies) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pulang dari sana bergabung dengan Balitbang GPM, lalu diangkat sebagai Sekretaris Yeperti GPM sambil menjadi Manajer Program Yayasan Sagu Salempeng.  Yayasan ini mengelola penguatan ekonomi perempuan lintas agama pada beberapa desa bertetangga di Pulau Ambon.

Mahupale  mengaku berada di Australia sebagai panelis Asia-Australia Aid Conferences ketika mendengar kabar lolos ke retret tahunan Tanenbaum di New York City.  Ia mendapat informasi berturut-turut dari Pendeta Jacky Manuputty, Sekum Sinode GPM Pendeta Elifas Maspaitella, dan akhirnya email dari Tanenbaum.

“Beta gembira dan bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih Pendeta Jacky yang  memberi kepercayaan kepada beta,” ungkap Pendeta Mahupale saat dihubungi di New York City, Senin malam ini.

Bagi Pendeta Mahupale, hal paling berkesan sebagai peserta retret tahunan ini  bukan hanya bisa menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam tetapi dapat berjumpa pekerja damai di seluruh dunia.

Menurut Pendeta Mahupale, pengalaman setiap peserta retret dalam mengelola konflik dan kerja-kerja perdamaian, sangat berharga dan saling menginspirasi.  Dua tokoh yang sempat dijumpai yaitu Pastor James dan Imam Ashafa, yang akrab dengan publik dunia karena terdokumentasi dalam film  Imam dan Pastor.

“Beta bertemu Imam dan Pastor, juga perempuan Muslim peacemaker. Beta menggali sebanyak mungkin dan belajar dari mereka tentang strategi dan pendekatan yang dipakai dalam mengelola konflik yg terjadi sesuai konteks masing-masing,“ jelas Mahupale.

Para peserta retret Tanenbaum mendapat kesempatan mendengar kisah-kisah perdamaian yang disampaikan dua pendeta dari Maluku.  Pendeta Mahupale menceritakan fokus kerja di Maluku yang melibatkan perempuan dan anak,  peningkatan ekonomi masyarakat dan kemiskinan, serta para penyandang disabilitas.

“Beta juga menjelaskan tentang pela dan gandong di Maluku,“ pungkas Mahupale.

Sumber: Malukupost