Penulis: Wanto Menda

KUPANG~Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) menggelar Kongres Nasional V di Kupang. Kongres kali ini mengusung tema: “Melangkah Bersama Menuju Pembebasan dan Transformasi” dan sub tema: “Menjadikan nilai-nilai feminis kritis sebagai gaya hidup berorganisasi, bergereja, berbangsa dan bernegara.”

Ibadah pembukaan dipimpin Pdt. Dr. Ira Mangililo, staf pengajar pasca sarjana teologi UKAW-Kupang, Minggu, (27/10) di aula serba guna Jemaat GMIT Elim Naibonat, Klasis Kupang Timur.

Mengacu pada bacaan Injil Yohanes 11:17-27 dengan perikop “Lazarus dibangkitkan”, Pdt. Ira memperkenalkan figur Marta (saudara dari Maria dan Lazarus) secara berbeda dengan tafsiran tradisional yang seringkali memandang sosoknya secara negatif. Dalam Injil Lukas, ungkap Pdt. Ira, kebanyakan penafsir memberi kesan negatif kepada Marta karena dianggap lebih sibuk dengan urusan dapur ketimbang mengambil peran seperti Maria yang tekun mendengarkan Yesus. Namun, di dalam Injil Yohanes, muncul kesan yang mengejutkan tentang sosok Marta. Marta adalah orang pertama yang mendengar sinyal kebangkitan Yesus. 

Pdt. Dr. Ira Mangililo

“Ketika membaca bagian ini maka tersadarlah saya bahwa inti pesan dari cerita ini bukanlah tentang kebangkitan Lazarus melainkan tentang peneguhan bahwa Yesus – sang Mesias yang akan mati nanti sebenarnya adalah kebangkitan dan hidup dan barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak akan binasa. Di sinilah, penting untuk digarisbawahi bahwa pemahaman tentang kebangkitan Lazarus merupakan tanda dari kebangkitan Yesus sendiri. Dan yang menarik adalah Ia menyatakan ini pertama kali kepada muridNya yang tidak lain dan tidak bukan bernama Marta. Ketika Petrus menyatakan bahwa bahwa Yesus adalah Mesias anak Allah yang hidup maka Marta bergerak melampaui itu guna memahami misteri terdalam dari Yesus yaitu bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup itu sendiri.”

Menurut Pdt. Ira, peran Marta dalam komunitas Yesus selanjutnya juga tak kalah penting. Ia tidak berhenti pada mendengar saja, melainkan ia bertindak. Hal itu terbukti dari cerita selanjutnya di pasal 12:2, di mana pada kunjungan Yesus berikutnya di Betania, Marta mengambil peran diaken dan melayani perjamuan kudus. Melalui respon iman Marta yang demikian, Pdt. Ira mengajak komunitas Peruati untuk tiga hal:

Pertama, para perempuan berpendidikan teologi dipanggil untuk mendengar dan berteologi; dan upaya berteologi harus dilakukan bersama sehingga setiap perempuan tidak lagi berjuang di sudutnya sendiri-sendiri.

Kedua, Peruati dipanggil untuk menjalankan fungsi diakonia, melayani mereka yang diingkari hak untuk memperoleh pendidikan setinggi-tinggi, diingkari hak untuk hidup secara layak dan bermartabat yang ditandai dengan kecukupan finansial termasuk dipanggil untuk mengasah dan memperlengkapi diri sehingga mampu mengelola berbagai potensi dan sumbar daya alam yang tersedia di Indonesia khususnya di NTT demi menghapuskan stigma bodoh, miskin, tanganga atau namkak, dll.

Ketiga, Peruati dipanggil untuk menciptakan solidaritas ekologi dengan alam yang bertujuan untuk menciptakan ikatan spiritual yang erat di antara manusia dan sesama ciptaan yang lainnya.

Sementara itu dalam sambutannya, Ketua Badan Pengurus Peruati Pdt. Rut Kezia Wanggay, M.Th, berharap Peruati sebagai wadah gerakan pembebasan dan transformasi, benar-benar menjadi rumah bersama untuk saling berbagi pengetahuan, hikmat dan kebijaksanaan juga materi sebagai bentuk solidaritas dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk tiba pada tujuan pembebasan dan transformasi itu menurut pendeta asal Minahasa ini, harus dimulai dari pembentukan dan perubahan perspektif atau mindset. Tanpa perubahan perspektif tidak mungkin ada perubahan sosial.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, saat menyampaikan suara gembala mengatakan bahwa kaum perempuan berpendidikan teologi khususnya di GMIT telah memberi pengaruh positif bagi peradaban dan kesetaraan gender di NTT. Ia mencontohkan, satu tahun setelah berdirinya Akademi Theologia Kupang (1971), baru ada satu mahasiswa perempuan. Namun tahun di 2019 ini, atau kurang lebih 50 tahun berikutnya, dari sekitar 1.500 orang pendeta GMIT, 62% nya adalah pendeta perempuan.

Kendati secara kuantitas perempuan makin mendapat posisi yang setara di tengah budaya patriarkhi di NTT, namun menurut Pdt. Mery, tantangannya adalah sejauhmana para pendeta perempuan berperan dalam perubahan sosial terutama bagi kaum tertindas?

“Tantangan saya dan teman-teman pendeta di GMIT adalah bahwa kita makin bangga dengan makin banyak pendeta perempuan, tapi kalau masyarakat tidak berubah, kalau tidak ada pembebasan bagi kaum tertindas, kalau tidak ada transformasi ke arah yang lebih adil dan sejahtera, jangan banyak bicara tentang jumlah. Jumlah harus diikuti dengan kualitas,” ujar Pdt. Mery disambut applaus ratusan peserta kongres.

Sedangkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dalam sambutannya berharap kongres ini melahirkan buah-buah pikiran cerdas dan kritis bagi pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi dan sosial di NTT termasuk membahas pariwisata sebagai prime mover.

Kongres V Peruati berlangsung selama lima hari yang dimulai dari 27-31 Oktober 2019. Kongres ini diikuti 21 Badan Pengurus dari berbagai wilayah di Indonesia antara lain: Badan pengurus Peruati Maluku, Minahasa, Poso, Bolaan-Mongondow, Kepulauan Singahe Siau Tagulanda Biaro (kab. Sitaro), Luwuk, Makasar, Tana Toraja, Mamasa, Halmahera, Kalimantan Tengah, Sumba, Jabodetabek, Bali, Medan, Tanoh Simalungun, Sumatera Utara, Tanah Karo, Priangan, Mitra dari Basel Christian Church of Sabah, dan Protestan Church in Sabah serta nyonya rumah sekaligus peserta dari Timor Kepulauan.

Sumber: website Sinode GMIT