Herlina Ratu Kenya

Herlina Ratu Kenya

Sebuah Tanggapan atas Diskusi Tema SR PGI, “Akulah Yang Awal dan Yang Akhir”

PERUATI.OR.ID, SUMBA – Pertemuan membahas tema Sidang Raya SR PGI ke-17, “Akulah Yang Awal dan Yang Akhir,” berlangsung pada hari ini di Sumba, dan ada pemaparan yang disampaikan oleh Pdt. Andreas Yewangoe, (25/7). Pak Yewangoe, demikian kami memanggilnya, memberikan pernyataan yang sangat menarik terkait Marapu dan Peń∑abaran Injil, “Anda tidak boleh ragu-ragu mengabarkan Injil karena itu hak Anda, tetapi pada saat yang sama Anda tidak boleh ragu-ragu untuk mendengarkan Marapu, jika mereka ingin mengabarkan kabar baik kepada Anda”.

Seperti biasanya, Pak Yewangoe membawa inspirasi baru yang menggoncang peserta yang hadir dalam pertemuan kali ini. Kritik dan pemikiran pak Yewangoe tentang Gereja dan Agama, menurut hemat saya, membuka gerbang perjumpaan antara Marapu dan Injil. Kedua belah pihak harus sama-sama saling mendengarkan. Dengan perjumpaan yang saling mendengarkan, maka ‘kabar baik’ yang sebenarnya yang selama ini terlupakan oleh gereja dan atau agama-agama, dapat mengemuka tanpa terjadi sikap yang saling menghakimi. Perjumpaan ini juga diharapkan dapat mengembangkan sikap saling menghargai, bukan sikap curiga dan abai satu dengan yang lain. Dampak yang paling diharapkan dalam perjumpaan ini, adalah gereja dan agama tidak lagi abai terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan yang mestinya bisa diatasi bersama.

Dalam diskusi ini, saya mengajukan pertanyaan bertolak dari pandangan bahwa kata “Alfa dan Omega” adalah konsep atau simbol bahasa yang maknanya dihidupi oleh pembaca kitab Wahyu, dimana penulis memilih simbol atau bahasa yang tepat dengan tujuan memberikan penguatan kepada pembaca dalam kondisi pada waktu itu. Nah dalam kaitan dengan kenyataan kini dan di Sumba, saya bertanya bagaimana GKS dan PGI merumuskan Alfa dan Omega ini dalam bahasa atau simbol yang dekat dengan kehidupan orang Sumba.

Pak Yewangoe menawarkan dua kemungkinan yakni pertama adalah kuda sebagai simbol yang mengingatkan, kuda adalah binatang yang penting dalam masyarakat Sumba dan juga terkait logo GKS dalam Wahyu 6:2. Kemungkinan kedua adalah bersama-sama mencari simbol yang masih tersimpan dalam budaya atau dalam tradisi masyarakat Sumba. 

Simbol Imaniah yang Membudaya

Saya memilih kemungkinan kedua di mana ada tawaran simbol lain yang merangkum tema ini dalam seluruh entitas yang tercakup di dalamnya. Mungkin simbol yang kami pikirkan tidak populer karena dari kalangan yang masih dianggap tidak penting namun dari sanalah kehidupan berasal.

Simbol yang sedang dalam pergumulan yang dilakukan oleh BPD PERUATI SUMBA adlah “mamuli” dalam motif tenunan perempuan Sumba. Untuk dapat mendalami hal ini, ziarah studi yang sedang ditempuh Pdt. Irene Umbu Lolo menjadi inspirasi yang memberi daya dan spirit baru yang memberi ruang bagi pengalaman perempuan yang juga rentan dengan berbagai pengalaman diskriminasi dalam masyarakat patriarkhi. Pengalaman ini juga relevan dengan isu-isu sosial seperti human trafficking, kerusakan ekologi, kekerasan seksual, kemiskinan dan lainnya.

Simbol “mamuli” ini mengingatkan kita pada awal kehidupan yang bermula dalam rahim seorang perempuan dan juga keberlanjutannya dalam rahim bumi ketika hidup harus berlanjut melalui fase kematian. Jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan berawal (Alfa) dan kehidupan berakhir (berlanjut) – (Omega) dari dan ke dalam rahim.

Keunikkan lain dari simbol “mamuli” ini adalah dimensi teologi yg terkandung di dalamnya. Allah dikenal dengan Sang Rahimin. Dalam frasa ini, terkandung maksud kehidupan berawal dari Allah. Rahimin dari kata dasar rahim-tempat manusia berawal. Pengakuan ini ada dalam smua agama dengan frasa yang berbeda-beda sehingga simbol ini merupakan jembatan yang menghubungkan spirit dari Sidang Raya dengan Agama/keyakinan lain.

Sidang Raya PGI yang akan dilaksanakan di Sumba, menjadi pesta iman, pesta rakyat, pesta budaya dan momentum perayaan keindahan dunia milik Allah di Sumba. Ini melintas batas, membangun peradaban beragama yang ramah dan saling merangkul bukan saling mengenyahkan.

Sifat Allah yang mengayomi, melindungi, menghidupkan, menghangatkan, menerima tanpa syarat, merawat dan seterusnya. Inilah yang tercermin dalam kata rahim, karena itu simbol “mamuli” atau (rahim) merangkum semua hal ini.

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *