“Awal tahun 1999 saya diundang bekerja disatu lembaga yang bernama Dienst für Mission Oikumene und Entwiklung (Pelayanan Misi Oikumene dan Pengembangan) di Württemberg Landeskirche di kota Reutlingen kira-kira 30 km dari kota Stuttgart.” Begitu Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut memulai kisahnya.

Akhir tahun 2004 ia kembali ke Gereja asalnya di Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Sulawesi Tengah. Kemudian tahun 2006 ada gereja berlatar belakang Indonesia di kota Frankfurt butuh tenaga pendeta yang bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Jerman. Ia kemudian melamar dan diterima.

“Walaupun jemaat tempat saya melayani ini berlatar belakang Indonesia, tapi jemaat ini berada dibawah struktur Landeskirche Evangelische Kirche in Hessen und Nassau (EKHN). Jadi pada dasarnya saya bekerja di Gereja Protestan Jerman.”

Latar belakang jemaat yang berbeda

Tugasnya di Jemaat Kristus Indonesia (JKI) pada prinsipnya sama seperti tugas pendeta di Indonesia. Hanya latar belakang jemaatnya yang berbeda. “Kalau di Indonesia saya berhadapan dengan jemaat yang umumnya berlatar belakang petani dan pegawai.”

Ia menambahkan, kalau di Jerman ia berhadapan dengan jemaat dengan latar belakang Indonesia, di mana generasi pertama mereka sudah hidup lebih 50 tahun di Jerman, sementara generasi keduanya hampir tidak bisa berbahasa Indonesia lagi. “Jemaat yang saya layani disini hidup dalam budaya industri.”

Tantangan bekerja di Jerman

“Anda tahu bekerja Jerman, selalu bekerja dalam tekanan. Tekanan tepat waktu, tepat sasaran dan capai target. Lagi pula di Jerman, apa saja ditulis. Pekerjaan saya sebenarnya banyak menulis. Menulis khotbah, menulis bahan seminar, menulis laporan, dalam bahasa Jerman.”

Ia menambahkan, bahasa Jerman itu bahasa yang sangat sulit. Walaupun ia sudah hidup di Jerman sekitar 20 tahun, tapi ia tetap mengalami kesulitan dalam berbahasa Jerman baik dan benar. “Untung saja anak-anak saya yang sudah besar selalu siap membantu jika saya mengalami kesulitan dalam bahasa.”

Bekerja di Indonesia lebih longgar, tidak ada tekanan harus tepat waktu, juga tepat target dan tepat sasaran. Demikian diungkapnya. “Dan terutama saya menggunakan bahasa Indonesia, yang adalah bahasa ibu saya, sebagai alat komunikasi.”

“Tentu saja di Indonesia saya bekerja dengan target-target dan sasaran-sasaran juga. Hanya saja disana lebih kompromistis.” Orang Indonesia punya rasa pengertian tinggi, katanya. Lagi pula lebih banyak dalam bentuk lisan.

Jadi baik di Indonesia maupun di Jerman ada plus-minus. Tidak bisa dikatakan bahwa di Jerman lebih baik dari di Indonesia.

Jembatan antara Jerman dan Indonesia

“Saya juga duduk di satu lembaga kemitraan antara EKHN dan gereja di Indonesia. Lembaga kemitraan ini sudah beberapa kali menghubungkan lembaga pendidikan di Indonesia dengan lembaga pendidikan berbasis industri di Jerman.” Papar Pendeta Lasut.

Ia bertutur, pernah mendampingi sekitar 15 kepala sekolah SMK, berkunjung ke industri-industri besar dan kecil di Jerman. Di industri itu anak-anak belajar. Misalnya industri otomotif, anak-anak bukan belajar meracik mobil diatas kertas, melainkan mereka benar-benar belajar meracik mobil benaran. “Jadi sebenarnya mereka belajar sambil ikut memproduksi,” katanya, sambil menambahkan, “Para kepala sekolah SMK itu terheran-heran, karena anak-anak yang belajar di Industri itu sudah mendapat gaji sekitar 600 – 900 Euro.”

“Jadi bukan hanya gereja Indonesia yang bisa memanfaatkan lembaga kemitraan ini. Lembaga kemitraan ini benar-benar adalah jembatan antara Indonesia dan Jerman,” paparnya.

Aktif dalam dialog dengan Islam

Jemaat Kristus Indonesia (JKI) menjalin kerjasama yang baik dengan Masyarakat Muslim Indonesia di Frankfurt. Pada bulan November tahun lalu JKI membuat konser dalam rangka mengumpulkan dana untuk korban bencana gempa dan Tsunami di Palu, Donggala. “Konser itu dikerjakan bersama antara pemuda kami dan pemuda dari Masyarakat Muslim Indonesia dan Mahasiswa Muslim di Frankfurt dan sekitarnya.”

Selain itu JKI juga pernah membuat kegiatan lain bersama dengan Masyarakat Muslim Indonesia di Frankfurt, yaitu melayani dan berjumpa dengan pengungsi dari Suriah. Gerejanya juga aktif dalam dialog teologis antara teolog muslim dan Kristen. “Bahkan kami pernah membuat ibadah bersama. Seorang imam melantunkan azan di altar gereja kami di Alte Nikolaikirche. Kami berdoa bersama untuk perdamaian bersama.”

“Saya pikir gereja dan kaum muslim di Jerman sangat intens bekerja sama dalam rangka perdamaian. Saya percaya Islam itu adalah agama perdamaian. Sama seperti Kristen juga. Yesus berkata: Berbagialah orang-orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Demikian paparnya.

Gereja dalam masalah kesetaraan antara perempuan dan pria

“Sampai tahun 80-an masih ada gereja di Indonesia yang tidak mengakui pendeta perempuan. Maklum gereja kita kan hidup dalam kultur patriarkhat yang kuat.” katanya sambil menambahkan, “Tapi di Jerman juga kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di gereja belum terlalu lama ada.” Gereja EKHN akan merayakan 70 tahun Frauenordination pada tahun ini.

Ia mengungkapkan pendapat, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki baik di gereja maupun di masyarakat, masih dalam perjuangan. Di sektor publik misalnya, perempuan dan laki-laki bekerja dengan volume yang sama, tapi sering gajinya berbeda.

Disektor domestik, tanggung jawab merawat dan mendidik anak masih lebih banyak dilimpahkan kepada perempuan. Padahal merawat dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri.

Di Indonesia hal-hal seperti menyapu, cuci pakaian, seterika dan memasak dipandang sebagai tanggung jawab istri. Di Jerman rumah tangga bisa cerai, jika si suami tidak mau berbagi tanggung jawab dalam hal pekerjaan rumah tangga.

Ia mengatakan, gereja juga harus mendorong kesetaraan antara perempuan dan pria. Antara lain lewat penyuluhan dan diskusi dalam berbagai kelompok kecil. Ia junga mengimbau para anggota majelis gerejanya untuk ikut menjadi pembimbing.

Belajar bertanggungjawab

Ketika ditanya apa pelajaran utama yang ia dapatkan selama hidup di Jerman, jawabannya singkat: tanggung jawab. “Kalau saya buat janji dengan seseorang untuk bertemu jam 3 sore, misalnya. Lalu datang telefon dari Indonesia mengatakan bahwa ada pejabat tinggi yang bernama X mau bertemu dengan saya, besok jam 3 sore, saya tidak mungkin membatalkan agenda saya dengan orang yang telah buat janji dengan saya,” pungkasnya. “Walaupun orang itu pekerjaannya hanya sebagai tukang sapu. Begitu budaya di Jerman.” Menurutnya, orang Jerman kalau sudah mengatakan “ya“, dia akan bertanggung jawab sampai selesai.

“Di Indonesia kalau orang bilang ‘ya’, bisa saja maksudnya bukan ‘ya’. Dan kalau orang tiba-tiba batalkan janji, mereka tidak merasa bersalah. “Mungkin budaya kita yang kompromistis itu, yang punya pengertian tinggi, yang menjadi penyebabnya.”

Sejalan dengan itu, ia menyerukan kepada kawula muda Indonesia untuk belajar dan bekerja sebisa mungkin. “Anak muda disini harus belajar keras dan bekerja keras. Anak muda disini mandiri tidak tergantung pada orang tua. Katanya sambil tersenyum.

Sumber: Tempo.co

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *