PERUATI.OR.ID, Waingapu – Ada pemandangan yang berbeda saat dialog  yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Badan Pengurus Daerah (BPD) Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (Peruati), yang berlangsung di  Masjid Agung Al Jihad, Kota Waingapu, , Rabu (29/05).

Kalau biasanya Dialog Antar Umat Beragama hanya dihadiri oleh para penganut dan perwakilan agama yang diakui oleh negara, dalam dialog yang berlangsung sore hari di pelataran masjid dihadiri oleh Wakil Ketua Marapu Kabupaten Sumba Timur yakni Umbu Remi, S. Kom. yang baru pertamakali dilibatkan dalam dialog antar umat beragama.

“Sekarang kita baru menunjukan eksintensi, artinya ketika diundang oleh FKUB Sumba Timur maka kita menununjukan bahwa kita itu ada. Sebelumnya pasti termarginalkan, terdiskriminasi karena sudah ada stigma Marapu itu kafir, tetapi baru hari ini kita diundang, tenyata masih ada orang-orang yang peduli dengan kaum yang termaginalkan” Ujar Umbu Remi.

Umbu juga memaparkan dari data yang tertuang dalam Sumba Timur dalam Angka pada tahun 2014, penganut kepercayaan Marapu mencapai 33. 939 Jiwa dan semenjak  tahun 2015 Badan Pengurus Marapu Kabupaten Sumba Timur telah terbentuk.

Terkait stigma terhadap Marapu  bahwa ada pernyataan kafir, Umbu Remi menyatakan tentunya bisa diproses hukum karena Marapu telah diakui sebagai salah satu kepercayaan yang ada di Indonesia.

“Sekarang kita melihat stigma itu masih tetap ada, kalau kita sudah melakukan upaya baik-baik seperti sosialisasi dan neksistensi kita tetapi ternyata masih tetap distigmakan, maka proses hukum bisa dijalankan, kan sudah ada dasar hukum bahwa marapu adalah salah satu kepercayaan yang ada di Indonesia, Keputusan MK No. 97 tahun 2016 bisa dijadikan pegangan.” tegas Umbu.

Sumber: sumbapost

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *