PERUATI.OR.ID – Bagi masyarakat khususnya perempuan NTT, kain tenun dibuat bukan sekedar sebagai penutup tubuh melainkan media literasi yang menyampaikan nilai dan kearifan yang diyakininya. Nilai itu adalah antara lain adalah penghargaan terhadap alam semesta, terhadap sesama dan juga pemujaan terhadap Sang Ilahi. “Tenunan Perdamaian,” demikian saya kami menamainya – Hubbussalam ditenun yang dihasilkan oleh sepasang suami istri bernama Ibu Anna dan Bapak Yan. Mereka tinggal di Kawangu sebuah tempat di pinggir kota Waingapu Sumba Timur.

Saya berkenalan dengan keluarga penenun ini, ketika membawa beberapa tamu untuk mencari oleh-oleh khas Sumba. Kami bertèmu beberapa kali dan saya menawarkan motif berupa kaligrafi ini kepada mereka. Nampaknya mereka antusias, bertanya soal makna di balik kaligrafi ini. Saya menjelaskan bahwa Hubbussalam berarti cinta perdamaian. Ini tulisan Arab kata saya. Tanggapan mereka luar biasa, “Oh jadi dalam agama Islam pun ada ajaran cinta damai?” Saya sempat bertanya lebih jauh tentang pandangan mereka terhadap agama Islam. Mereka dengan jujur mengakui bahwa dalam benak mereka Islam itu berkonotasi sangat berbeda dan kadang menakutkan. Kaligrafi ini meluruskan pemikiran keliru atau stigma buruk mengenai agama Islam.

Tenunan Perdamaian adalah upaya untuk memperjumpakan nilai yang dibahasakan agama-agama melalui frasa yang berbeda namun maknanya sama yakni cinta perdamaian. Motif ini dipadukan dengan motif Sumba, yakni kuda dan udang. Kuda adalah binatang penting buat masyarakat Sumba terkait dengan budaya perkawinan maupun kematian. Sedangkan udang adalah totem yang menunjuk kepada kontinuitas kehidupan atau dalam tradisi Kristen disebut kekekalan.

Kaligrafi Hubbussalam ada diantara keduanya yang mampu memberi pesan yang kuat bahwa cinta perdamaian adalah buah kehidupan yang ditenun dan diupayakan senantiasa. Perdamaian tidak lahir begitu saja tetapi kesadaran untuk menenun dalam setiap masa itulah yang menghadirkannya. Perdamaian dalam hal ini bermakna dalam keseharian semesta (baik dalam relasi antar manusia maupun dalam relasi dengan ciptaan lain) maupun nanti dalam kekekalan.

Selain makna di atas, Hubbussalam memberi ruang kepada perempuan penenun untuk menyampaikan narasi di balik motif-motif tenunan karyanya. Bila selama ini orang terbiasa membeli tenunan tanpa mau tahu lebih lanjut siapa penenunnya dan apa makna di balik motif-motif tersebut. Namun dengan adanya motif baru (motif kaligrafi), orang ‘ditantang’ untuk bertanya soal maknanya dan manakala itu terjadi maka perempuan mendapatkan kesempatan untuk bicara menyampaikan nilai-nilai yang penting bagi kehidupan.

Ruang publik yang jarang dimasuki perempuan kini dihiasi karya maha indah penuh makna dari tangan-tangan trampil perempuan. Kain Tenun Perdamaian adalah sumbangan perempuan bagi kehidupan bersama yang rukun, setara, adil dan bermartabat.

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *